Menjaga padi dari serangan burung kecil (burung emprit) sebutan dari desa kauman Mataram Ilir merupakan kegiatan yang paling menjengkelkan bagi petani pada saat musim tanam padi, seperti yang di lakukan Khoirul Anwar pada (Senin/22/01/2018) pukul 14:57 WIB.
Padi merupakan makan pokok yang dikonsumsi manusia sejatinya, namun kala padi adalah kesukaan burung-burung kecil pemakan biji-bijian. Seiring dengan musim tanam padi baik ditanam persawaah maupun lahan dataran setiap petani berlomba-lomba untuk menanam padi yang terbaik guna menghasilkan produk padi yang unggulan, tidak mudah bagi petani untuk menanam padi yang unggul serta akan menghasilkan padi bagus dan unggul, tetapi banyak problem yang dihadapinya selama penanaman padi.
Permasalahan yang sering petani alami dari serangan hama serangga, kupu-kupu, ulat, tikus dan burung pemakan biji semua hama itu merupakan momok yang sangatlah menyebalkan bagi seorang petani tanam padi. Upaya yang telah ia lakukan dari berbagai macam serangan hama dengan obat-obatan dan bahan pengusir hama telah dilakukna namun masih banyak hama yang belum terusir atau terobati. Petani terus berusaha mengusir hama dengan tujuan untuk mendapatkan hasil padi yang unggul dan banyak tidak pantang menyerah, ia rela panas-panasan dari teriknya matahari dan derasnya hujan ia tetap bergigih upaya untuk menjaga dan merawat padi yang di tanamnya selama ini.
Tutur Bapak Abu Khoiri dan Ibu Sutinah dalam wawancara yang dilakukan oleh Khoirul Anwar selaku Bapak dan Ibunya.
Akhir sebuah perawatan yang ditunggu-tunggu adalah pada saat musim panen padi, padi yang tua atau yang kuning sudah siap untuk di petik namun masih banyak permasalah yaitu dari serangan (burung emprit pemakan biji). Lagi dan lagi permasalahan yang dialami petani tidak tiada hentinya, upaya yang dilakukan petani saat musim padi siap panen adalah menjaganya dengan berbagai macam alat pengusir (burung emprit) pemakan biji padi. Yakni, kentongan, kaleng, orang-orangan dan masih banyak lagi guna mengusir burung pemakan biji tersebut.
Adanya alat tersebut semoga dapat membantu mengusir hama burung emprit, Bapak Abu Khoiri dan Ibu Sutinah menggunakan kentongan dan kaleng susu untuk menjaga/merawat padi dari serangan burung. Karena kedua alat tersebut menghasilkan bunyi yang keras yang membuat burung tidqk nyaman ketika ingin memakan padi. Ia menjaga padi dari pagi, siang sampai sore hari dengan suara kerasnya kentongan dan kaleng susu yang terus menerus dipukulinya jika ada burung emprit yang hendak memakan padinya.
Bunyi kentongan dan kaleng terdengan begitu nyaringnya dari kejauhan saut menyaut antar petani padi yang menjaga lahannya dari serangan burung emprit pemakan padi. Sehingga membuat saya tertarik untuk membantu Bapak/Ibu saya diladang. Terus menerus kentongan dan kaleng susu aku bunyikan.
Tok..tok..tok......suara kentongan berbunyi pertanda ada serangan burung emprit yang menghampiri lahan padi Bapak Abu Khoiri. Tiada lelah yang saya lakukan karena indah dan nyaringnya saut menyaut antar petani yang menjaga padi. Haripun menjelang sore waktunya Khoirul Anwar dan keluarga bersiap-siap pulang meninggalkan serangan padi dari burung emprit yang dijaganya, karena senja matahari sudah tampak sore dan burung emprit sedikit demi sedikit berpergian meninggalakan buruanya.
Padi yang baik adalah padi yang terhindar serangan hama tikus, ulat, kupu-kupu dan burung emprit. Maka sebagai petani harus berkerja keras guna mendapatkan hasil yang puas dan terbaik. (Khoirul Anwar) #SalamSejati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar